Minggu, 08 November 2009

artikel stres


STRES TERBENTUK DARI Tekanan yang berbentuk harapan berlebih maupun bentuk-bentuk penekananlainnya, me-rupakan hal yang sering menyebabkan para pelajar menderitastress padamasa mereka sekolah. Hal tersebut, mereka alami sejak duduk di bangkusekolah, seperti halnya pada saat mereka memasuki Taman Bermain. Menyertakan mereka dalam suatu pertandingan, memicu mereka agar menjadi yangter baik serta menuntut mereka agar memiliki hubungan sosial sertapribadi yang baik,merupakan sesuatu yang dapat menyebabkan mereka mengalami stress.

Selama pengalamannya 31 tahun mengajar,Richard L.Hall,Phd, belumpernahmelihat suatu keadaan yang lebih menimbulkan stress dari pada saat-saattersebut.Hall adalah wakil kepala sekolah Lovett Atlanta' School yang memiliki1,500siswa, dari sejak yang masih duduk di taman bermain hinggayang telahmencapaisekolah menengah."Memang terlalu berlebihan" ungkap Hall."Para siswa umumnya dibuatberadadi dalam kancah perasaan bahwa bagaimanapun juga keadaan mereka, merekatetap harusmen-jalaninya. Mereka sering merasakan seolah-olah mereka berada sendirian tanpa adanyadukungan, yang walaupun terasa berat untuk mereka jalani, mereka tetapharus menjalaniserta menyelesaikan-nya dengan baik.

Semua ini tanpa sadar membuat mereka stress".Stress and Distress Stress sendiri, sebenarnya bukanlah merupakan sesuatu yang tidak baik,ungkap seorang akhli psikologi anak Brenda Bryant, Phd, profesor bidang.Human Development dari Universitas California. "Karena, tanpa stressAnda tidak akan benar-benar hidup" ungkapnya."Tantangan akan membuat Anda mengetahui sesuatu yang baru dan membuatotakAnda tetap berfungsi".Didalam setiap teori mengenai belajar, dikatakanbahwa stress merupakan sesuatu yang pasti harus ada.Akan tetapi, jikastress yangterjadi tersebut sampai menghambat perkembangan-nya, makamasalahpun akan mulai muncul.Karena itu, seorang anak yang banyakmengalami stress akan mengalami hambatan"Sehinga, seorang tua harus mengambil jalan yang terbaikuntukditempuhnya, seperti halnya dengan membimbing setiap anak sesuai batasumurnya.
"Kita tidak perlu memaksa seorang anak mencapai prestasi tertentu" ungkap Karen Debord, Phd, spesialis bidang pengembangan anakdi North Carolina Cooperative Extension Service." Membentuk motivasi pribadi di dalam diri seorang anak merupakan sesuatu yang paling utama untuk dilakukan, dari pada memberikan uang senilai tertentuuntuk keberhasilannya. Katakanlah kepada mereka bahwa kita sangat banggadengan setiap keberhasilan yang telah mereka capai serta "Bukankah kamujuga senang dengan keberhasilan yang telah kau capai ?'".

Karena, jika mereka melakukannya hanya demi hadiah yang akan merekaterimasaja, maka kita telah mendidik mereka tidak baik karena menjadikanmereka orangyang selalu bekerja demi uang dan cenderung mengeluhkan pekerjaannya.Hall selanjutnya mengatakan bahwa adalah tidak benar bagi seorang tuauntuk menginginkan anaknya mencapai prestasi yang berada diluarkemampuannya.

"Orang tua, umumnya bangga dengan keberhasilan yang telah dicapai olehanaknya, serta tidak menginginkan anaknya sampai mengalami kegagalan"ungkapnya. "Kita sebagai pihak sekolah maupun orang tua harus selalu menyadaribahwa kesempurnaan bukanlah merupakan sesuatu yang harus dicapai, karenahal tersebut bukanlah merupakan sesuatu yang dapat dicapai melalui yangkita usahakan.

Jika seorang anak menjadi tidak mampu akibat mengalami stress yangdihadapiolehnya, akan lebih baik jika pihak keluarganya berkonsultasi denganseorang yangprofesional seperti halnya dengan seorang ahli psikologi atau psikiatri
anak. Walaupundemikian, mencegah terjadinya hal tersebut merupakan kunci utama didalamhal ini.

Cara Mencegah Mengalami Stress Di SekolahPada dasarnya, berikut ini adalah apa yang Anda perlu ketahui untukmencegah stress yang dialami anak Anda agar tidak berkembang menjadi stress(masalah).

Sedapat mungkin luangkan waktu Anda untuk berkomunikasi dengananak-anak Anda.Ciptakan situasi kehidupan rumah yang harmonis, jangan menerapkan aturan-aturan yang kaku termasuk saat mereka menciptakan masalah. Jangan hanya terbiasa menegur serta menjatuhkan hukuman kepada mereka saat mereka akan atau telah melakukan sesuatu yang tidak baik, tetapiciptakanlahkomunikasi yang baik, pahami keadaan yang dihadapi mereka lalu bimbingserta arahkan mereka.



TIPS MENCEGAH DAN MENANGGULANGI STRESS/DEPRESI/PSIKOSOMATIS
Berhubung banyak sekali pembaca yang menghubungi saya lewat imel untuk curhat masalah pribadinya yang tak mungkin disampaikan diblog, tapi tak mungkin saya membalas satu persatu lewat imel, karena sebenarnya semua solusi sudah pernah saya tulis dalam artikel saya tapi umumnya mereka agak sulit mencarinya atau agak malas baca satu persatu tulisan berkategori Spiritual blog ini, maka saya bahas lagi masalah mencegah dan menanggulani stress/depresi/psikosomatis untuk bisa dibaca ulang oleh semua pembaca yang ingin mengetahuinya….
“Stress” artinya tekanan, penyakit stress adalah penyakit yang mengganggu kejiwaan seseorang karena tidak dapat mengatasi/menyalurkan dan mencari jalan keluar yang tepat, baik dan benar agar tekanan tersebut tidak mengganggu sistem saraf dan mengakibatkan depresi mental…
Kalau tekanan batin/mental yang diderita seseorang tidak bisa diatasi dengan baik, akan terjadi kondisi depresi yang dapat mengganggu fungsi saraf, mulai saraf lokal sampai saraf pusat yang terletak didalam otak kita….
Kalau kondisi mental/jiwa dalam keadaan depresi tidak bisa diatasi dalam waktu berkepanjangan dan mulai merusak fungsi/faal tubuh, maka kondisi yang memburuk itu biasa disebut penyakit psikhosomatis, penyakit kejiwaannya sudah berpengaruh besar terhadap kondisi fisik si penderita…contohnya terjadi serangan hypertensi, gagal jantung, gagal ginjal, buta sementara, lumpuh sementara, paranoid (ketakutan yang berlebihan), berhalusinasi/shizoprane, berbuat asosial dan anarkis…sampai bisa melakukan bunuh diri….Sebenarnya penyakit ini porsinya dokter jiwa…tapi kebanyakan orang lebih suka pergi kedokter biasa atau kedukun saja, karena takut dibilang sakit “gila”…
Menurut hasil penelitian lembaga survey tertentu, katanya di Indonesia ini orang yang menderita gangguan kejiwaan stress/depresi/psikosomatis tersebut telah mencapai lebih dari 50%…(saya lupa lembaga survey yang mengadakannya..)..
Kalau dilihat dari kenyataan dimasyarakat, menurut saya justru yang menderita kelainan kejiwaan di Indonesia bisa mencapai 75 %, atau lebih, dilihat dari berlangsungnya krisis multi dimensi yang telah berlangsung hampir 10 tahun tapi belum ada tanda perbaikan yang signifikan…
Bagimana mungkin krisis berkepanjangan bisa diatasi kalau para eksekutif, yudikatif, legislatif…juga masyarakat luas mayoritas menderita kelainan kejiwaan seperti sekarang ini…produknya tentu tidak akan bisa diharap banyak…
Apalagi sekarang ini Indonesia menganut azas demokrasi yang modern, semua diputuskan lewat keunggulan mayoritas…kalau mayoritasnya menderita sakit kejiwaan, maka hasil putusan/produk nasionalnyapun ya bermasalah pula…jangan menyalahkan siapapun, inilah konsekuensi logis bagi bangsa yang kwalitas kecerdasan intelektual, emosional dan spiritualnya mayoritas masih relatif rendah, tapi memilih sistem politik demokrasi…jangan saling menuduh antara kelompok satu dengan kelompok lain…ini adalah tanggung jawab bersama memperbaiki diri kita sendiri, keluarga, handai tolan, anak buah sendiri…baru keorang lain….
Jadi menurut hemat saya, sudah tiba saatnya setiap orang/individu mau berusaha mencegah dan menanggulangi stress/depresi/psikhosomatisnya masing masing dulu, agar memberikan kontribusi kepada kesehatan sosial masyarakat banyak…
Karena kita hidup diera demokrasi modern, masyarakat mandiri dan madani, maka setiap individu kita harus mampu mencegah dan menanggulangi stress/depresi/psikosomatisnya, agar kita bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara…
Sekarang bagaimana caranya? ….
Caranya sebenarnya sangat simpel yaitu : ” Kemauan keras untuk melakukan introspeksi diri secara menyeluruh dan mendasar, sesuai dengan norma agama, hukum, adat istiadat, susila dan kesopanan..”…Kalau ESQ LC menyebutnya sebagai: ” Melepaskan diri dari 7 belenggu kehidupan dan membebaskan diri dari berbagai berhala kehidupan yang selama ini telah membelenggu dan merusak paradigma berfikir dan kejiwaan kita…mengakibatkan kita keluar dari jati diri manusia yang manusiawi, yang diciptakan sebgai kalifah diatas bumi yang diberi modal akal fikiran dan hati nurani oleh Allah SWT…
Cara introspeksi:
1. Pergilah melayat orang yang meninggal dunia dan ikut menguburkannya…
2. Pergilah kerumah sakit, trutama ketempat gawat darurat dan yang menderita sakit parah…
3. Pergilah ke rumah penampungan orang tua jompo. panti asuha anak yatim piatu…
4. Pergilah ketempat penampungan para korban bencana alam, para gepeng (gembel dan pengemis)…
5. Pergilah ke panti tuna netra…
6. Perhatikan penderitaan para pengemis cacat fisik di jalanan..
7. Lakukan shalat tahajud tengah malam, kemudian bertafakur dikesunyian malam, berdialog dengan hati nurani sendiri…dan bertanya pada hati nurani: “Melihat semua penderitaan orang lain diberbagai tempat penampungan tersebut, apakah pantas aku masih tidak bersyukur kepada karunia Allah yang telah diberikan selama ini ???”….
8. Kalau anda masih belum bisa mensyukuri karunia Tuhan dengan metoda diatas, berarti anda sudah menderita “patologis” atau menderita “penyakit buta hati”…ini lebih parah lagi dari sekedar psikhosomatis…anda sudah kehilangan jati diri anda akibat terbelenggu oleh berbagai berhala kehidupan..dan anda sudah mendekati golongan orang yang “tidak berprinsip pada Allah”…dan mendekati.. “syirik/menduakan Tuhan”..dosa terberat yang tidak terampuni oleh Tuhan…
9. Kalau seseorang sudah ditutup pintu hatinya, ditutup mata batinnya oleh Tuhan, siapapun tidak bisa menolong lagi….dalam kondisi seperti apapun, sekaya apapun, setinggi apapun pangkat dan jabatan anda, sehebat apapun anda dipuji orang, anda akan tetap menderita batin, menderita psikosomatis dan berakhir dengan kematian yang memalukan …..Kalau sudah seperti ini, maka seorang tukang becak yang terpaksa harus tidur diatas becaknya karena tidak punya rumah, atau gembel yang terpaksa tidur dibawah kolong jembatan, akan merasa lebih berbahagia daripada anda…yang bergelimang harta berkecukupan tapi menderita psikosomatis karena menderita …”buta hati…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar